Simfoni Kematian dan Teka-teki Robot Gedek - Babe Baekuni

Table of Contents
robot gedek babe baekuni

Senyap dilorong kumuh Jakarta medio 1990-an hingga medio 2000-an ternyata menyembunyikan predator yang bergerak bagai bayangan diantara tumpukan barang rongsokan dan bau menyengat sampah kota. Dibalik kusamnya wajah-wajah marginal, tersimpan kegelapan absolut yang melampaui nalar manusia; sebuah pola mengerikan yang dimulai dari keganasan Siswanto alias Robot Gedek dan seolah menemukan "penerusnya" pada sosok Babe Baekuni. Keduanya bukan sekadar kriminal biasa, melainkan arsitek dari mimpi buruk yang memangsa anak-anak jalanan yang terlupakan, meninggalkan jejak mutilasi yang memaksa semua orang untuk bertanya apakah kekejian ini adalah sebuah kebetulan, ataukah ada benang merah psikologis yang mengikat mereka dalam satu lingkaran setan yang sama?

Prologue 

Aroma anyir darah dibalik rel kereta api dan kolong jembatan menjadi saksi bisu bagaimana sebuah "tandatangan" kriminal yang serupa terukir dengan begitu presisi. Robot Gedek dengan kekosongan jiwanya dan Babe Baekuni dengan manipulasi kebapakannya, keduanya beroperasi di ruang yang sama, menyasar jiwa-jiwa paling rentan, dan mengakhiri hidup mereka dengan cara yang paling purba. Mengurai kasus ini bukan hanya tentang menghitung jumlah nyawa yang hilang, melainkan tentang menelusuri lorong gelap psikiatri forensik untuk memahami bagaimana trauma masa lalu bertransformasi menjadi monsteritas yang sistematis. Penyelidikan ini akan membawa kita kembali ke masa dimana rasa aman adalah kemewahan, dan setiap sudut gelap kota menyimpan mata yang mengintai dengan penuh nafsu maut.

Kasus Pertama

Disudut kota Jakarta, Pada paruh pertengahan 1990-an, Jakarta dihantui isu pembunuhan berantai terhadap anak jalanan. Polisi menemukan pola berulang pada jenazah bocah laki-laki usia sekitar 9–15 tahun. Dimana ada jejak jeratan di leher, luka sayat pada perut dan tanda kekerasan seksual. Sebagian besar korban dibuang di dua klaster berbeda  yaitu lokasi eks Bandara Kemayoran dan kawasan Pondok Kopi.

Setelah jatuhnya korban keempat, penyelidikan diperketat dan mengarah pada dugaan pelaku yang akrab dengan komunitas anak jalanan itu sendiri. Jejak kemudian menuntun ke seorang pemulung bernama Siswanto alias Robot Gedek (dari kebiasaannya menggeleng-geleng kepala). Ia ditangkap polisi di kawasan Stasiun Tegal pada 27 Juli 1996, setelah mudik ke kampung halamannya.

Dalam proses pemeriksaan, pada 6 Agustus 1996 Siswanto mengakui rangkaian kejahatan dengan menyodomi dan membunuh anak-anak, lalu memutilasi sebagian korban untuk menghilangkan jejak. Menurut keterangan penyidik saat itu, temuan lapangan turut mengaitkan dirinya antara lain sidik jari pada pisau cutter yang tertinggal serta bekas DNA di TKP. Total korban yang ditelusuri mencapai 12 anak dengan delapan jenazah ditemukan di Jakarta dan sisanya di wilayah Jawa Tengah.

Pada  tanggal 21 Mei 1997, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan vonis mati kepada Siswanto. Upaya banding dan kasasi ditolak. Ia dipindah dari LP Cipinang ke LP Batu, Nusakambangan (1999). Namun, menjelang dieksekusi, pada 26 Maret 2007 Siswanto meninggal dunia disebabkan serangan jantung di RSUD Cilacap.

Babe Baekuni sengaja memberikan kesaksian palsu untuk menimpakan beberapa aksi pembunuhannya kepada Robot Gedek.

Kasus Kedua 

Di permukaan, Baekuni hanyalah seorang koordinator pengamen jalanan yang akrab disapa "Babe," sosok pelindung bagi anak-anak marjinal di Jakarta dan sekitarnya. Namun, pihak berwajib yang menangani kasus ini menemukan bahwa empati tersebut hanyalah kedok untuk memburu mangsa;

Penyelidikan mencapai titik balik yang mengerikan ketika potongan tubuh manusia ditemukan di pinggir jalanan Bekasi dan Jakarta Timur pada awal 2010. Polisi harus bekerja ekstra keras merangkai "puzzle" daging dan tulang tersebut untuk mengidentifikasi korban, yang akhirnya menuntun jejak digital dan keterangan saksi langsung ke pintu rumah Baekuni. Saat interogasi berlangsung, ketenangan Baekuni justru menjadi bukti paling menyeramkan bagi para penyidik. Ia mengakui perbuatannya dengan detail yang dingin, mengungkapkan obsesi nekrofilia yang membuat penyidik ataupun semua yang mendengarnya merasa mual.

Secara keseluruhan, Babe Baekuni terbukti bertanggung jawab atas pembunuhan berantai terhadap sedikitnya 14 bocah laki-laki, sebuah angka yang menempatkannya sebagai salah satu pembunuh paling produktif dalam sejarah hukum Indonesia. Motifnya yang berakar dari trauma masa kecil menciptakan lingkaran setan kekerasan yang sulit dicerna oleh akal sehat. Pengadilan akhirnya menjatuhkan vonis mati bagi sang predator, menutup babak perburuan panjang yang menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban dan catatan kelam bagi dunia kriminologi tanah air.

Menguak Tabir Misteri

Dalam persidangan Robot Gedek pada tahun 1997, Muncul seorang saksi utama bernama Sunarto.Setelah Babe Baekuni tertangkap pada tahun 2010, pengacara Robot Gedek meyakini bahwa Sunarto dan Babe Baekuni adalah orang yang sama. Kesaksian Sunarto saat itu sangat krusial karena ia mengaku melihat Robot Gedek membawa seorang bocah ke semak-semak sebelum korban ditemukan tewas. Dari sini munculah spekulasi kuat bahwa Babe Baekuni sengaja memberikan kesaksian palsu untuk menimpakan beberapa aksi pembunuhannya kepada Robot Gedek. Hal ini didasari pada pengakuan Baekuni setelah ia tertangkap bahwa dirinya telah mulai membunuh sejak tahun 1993, periode yang sama saat Robot Gedek beraksi!?

Meskipun pengacara Robot Gedek yakin 100% bahwa saksi Sunarto adalah Baekuni, pihak kepolisian pada masa itu sempat menyatakan bahwa keduanya adalah individu yang berbeda. Namun, fakta bahwa Baekuni mengenal Robot Gedek di jalanan dan pola mutilasi mereka sangat mirip tetap menjadi "benang merah" yang tak terelakkan.

Titik temu psikologis

Saat menelusuri titik temu psikologis antara Robot Gedek (Siswanto) dan Babe Baekuni berarti juga memasuki labirin trauma masa kecil yang terdistorsi menjadi perilaku predator. Secara kriminologi dan psikologi forensik, ada beberapa benang merah yang sangat kuat yang mengikat keduanya:

1. Siklus Viktimisasi (Dari Korban Menjadi Pelaku)

Titik temu paling mendasar adalah keduanya merupakan produk dari trauma masa kecil yang ekstrem. Robot Gedek dan Babe Baekuni sama-sama pernah menjadi korban pelecehan seksual (sodomi) saat mereka masih kecil atau remaja.

Dalam psikologi, ini sering disebut sebagai mekanisme pertahanan diri yang menyimpang: untuk mengatasi rasa tidak berdaya saat menjadi korban, mereka "mengambil alih kekuasaan" dengan menjadi pelaku di masa dewasa. Mereka melakukan identifikasi terhadap agresor (identification with the aggressor).

2. Preferensi Korban yang Spesifik (Pedofilia & Homoseksualitas)

Keduanya menunjukkan penyimpangan seksual yang identik. Mereka tidak hanya menyasar anak-anak (pedofilia), tetapi secara spesifik menyasar anak laki-laki. Ada semacam "pengulangan kejadian" di mana mereka mencari sosok yang menyerupai diri mereka saat masih kecil: rentan, tidak berdaya, dan berasal dari kelas sosial yang sama (anak jalanan/pemulung).

Memilih anak jalanan juga merupakan strategi psikologis untuk meminimalisir risiko tertangkap, karena mereka tahu korban-korban ini sering kali tidak dicari oleh keluarga atau otoritas.

3. Modus Operandi "Bapak Pelindung" (Manipulasi Psikologis)

Berbeda dengan predator yang menggunakan kekerasan fisik di awal, keduanya menggunakan pendekatan emosional. Babe Baekuni dikenal sangat dermawan kepada anak-anak jalanan, memberi mereka makan dan tempat tinggal, sehingga ia dipanggil "Babe". Robot Gedek juga berbaur di lingkungan yang sama.

Titik temunya mereka menciptakan ketergantungan emosional dan ekonomi terlebih dahulu. Ini menunjukkan profil psikologis yang manipulatif; mereka menikmati peran sebagai "pemberi" sebelum akhirnya berubah menjadi "penyiksa". 

4. Mutilasi sebagai Bentuk Kendali Penuh

Mutilasi yang dilakukan keduanya bukan sekadar untuk menghilangkan jejak, melainkan memiliki fungsi psikologis: 

Objektifikasi: Dengan memotong-motong tubuh korban, mereka sepenuhnya mereduksi manusia menjadi benda. Ini adalah puncak dari keinginan untuk memiliki kendali total atas korbannya.

Pelepasan Frustrasi: Bagi mereka, tindakan mutilasi adalah cara untuk mengeluarkan kemarahan yang terpendam selama puluhan tahun terhadap dunia yang pernah menyakiti mereka. Ada kepuasan psikologis yang "menenangkan" setelah melakukan tindakan keji tersebut.

5. Kesamaan Profil Sosiodemografi (Marginalitas)

Keduanya hidup di pinggiran masyarakat sebagai pemulung atau tunawisma. Secara psikologis, hidup dalam kemiskinan ekstrem dan isolasi sosial memperkuat rasa benci terhadap tatanan sosial.

Lingkungan kumuh dan bantaran rel kereta api bukan hanya tempat tinggal, tapi menjadi "wilayah perburuan" yang membuat mereka merasa berkuasa di tengah ketidakberdayaan ekonomi mereka.

Konklusi

Robot Gedek dan Babe Baekuni adalah cermin dari bagaimana kegagalan sosial dan perlindungan anak di masa lalu menciptakan "Monster" di masa depan. Mereka terikat oleh rantai dendam yang sama: luka masa kecil yang tidak pernah sembuh, yang kemudian diekspresikan melalui cara yang paling mengerikan untuk mendapatkan kembali kontrol atas hidup mereka melalui nyawa orang lain.

Posting Komentar

www.domainesia.com
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
DomaiNesia