Kenapa Orang Miskin & Menengah Terobsesi dengan iPhone?
Seorang yang memiliki iPhone sering kali dipersepsikan memiliki status sosial dan ekonomi yang lebih tinggi dilingkungannya. Hal ini disebabkan oleh harga iPhone yang relatif mahal dibandingkan dengan smartphone lainnya, sehingga kepemilikan sebuah iPhone bisa diartikan sebagai simbol kemewahan dan prestise.
Tidak hanya itu, pengguna iPhone juga dianggap lebih modern dan melek teknologi, mengingat Apple sebagai induk perangkat ini selalu memperkenalkan inovasi terbaru melalui produk-produknya. Dengan memiliki iPhone, seseorang bisa dianggap mengikuti perkembangan teknologi terkini.
Disini Apple berhasil membuat seluruh lini produknya benar-benar bernilai, bisa dilihat dari perangkat-perangkat yang sudah berumur lebih dari 3 tahun masih banyak peminatnya.
Persepsi yang Salah
Bagi individu berpenghasilan rendah, memandang iPhone secara seimbang adalah hal yang krusial, memisahkan antara kebutuhan fungsional dan tekanan sosial/gengsi.
Pandangan yang seimbang terhadap iPhone seharusnya bersifat pragmatis dan berhati-hati, memisahkannya dari godaan gengsi atau status sosial. Seseorang dengan pendapatan rendah perlu menilai iPhone, atau perangkat high-end lainnya, sebagai alat kerja yang serius dan potensi investasi fungsional—bukan sekadar barang mewah yang didorong oleh hasrat konsumerisme.
Jika keandalan sistem operasi, kualitas kamera yang superior untuk bisnis online, atau dukungan software jangka panjang benar-benar dapat meningkatkan efisiensi kerja atau membuka peluang pendapatan yang lebih besar, maka pembelian iPhone (seringkali model yang lebih tua dan terjangkau) dapat dibenarkan sebagai cara untuk mengurangi total biaya kepemilikan dalam jangka panjang dan meningkatkan modal digital.
Namun, pandangan ini harus selalu didampingi oleh disiplin finansial yang ketat. Orang miskin harus menolak keras godaan untuk membeli iPhone terbaru yang melampaui kemampuan finansial hanya demi memuaskan tekanan sosial atau ilusi status. Memaksakan diri untuk berutang atau mengorbankan kebutuhan esensial demi gadget bermerek adalah tindakan yang kontraproduktif dan hanya akan memperparah kemiskinan. Namun, pandangan ini harus selalu didampingi oleh disiplin finansial yang ketat.
Orang miskin harus menolak keras godaan untuk membeli iPhone terbaru yang melampaui kemampuan finansial hanya demi memuaskan tekanan sosial atau ilusi status. Memaksakan diri untuk berutang atau mengorbankan kebutuhan esensial demi gadget bermerek adalah tindakan yang kontraproduktif dan hanya akan memperparah kemiskinan.
Jika smartphone Android yang jauh lebih murah sudah mampu memenuhi semua kebutuhan fungsional sehari-hari dan pekerjaan, maka pilihan yang bijak dan bertanggung jawab adalah memilih perangkat tersebut. Intinya, iPhone harus dilihat sebagai pilihan alat, bukan penentu harga diri, dan keputusan memilikinya harus didasarkan pada analisis manfaat ekonomi yang jelas, bukan pada dorongan emosional semata.
Pandangan yang sehat adalah melihat iPhone sebagai opsi gadget kelas atas yang hanya dipertimbangkan jika analisis biaya-manfaat fungsional (bukan emosional) menunjukkan bahwa ia benar-benar dapat meningkatkan peluang pendapatan dan efisiensi kerja yang melampaui biaya belinya. Jika tidak, itu adalah pemborosan yang harus dihindari.
Keberhasilan Apple membentuk Image Produknya
Sebagai info, pernahkah kamu mendengar kisah tentang seseorang yang rela mengantri semalaman demi mendapatkan iPhone terbaru? Atau ada yang sampai menjual dirinya (open BO) demi mendapatkan iPhone terbaru? Hingga sampai rela meminjam di Pinjaman Online atau Pinjol? Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik iPhone dan bagaimana produk ini telah menjadi simbol prestise di mata banyak orang terutama dinegara Indonesia.
Demi memiliki perangkat ini, orang rela melakukan apa saja untuk sekedar dianggap memiliki selera yang baik dalam memilih produk berkualitas tinggi dan eksklusif.
Tidak ketinggalan, pengguna iPhone juga sering kali merasa menjadi bagian dari komunitas eksklusif, berkat fitur-fitur seperti iMessage dan FaceTime yang menciptakan ekosistem tersendiri.
Hubungan Menarik Gen Z dan iPhone-nya
Generasi Z, atau Gen Z, tumbuh di era dimana teknologi dan media sosial berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Bagi banyak Gen Z, iPhone bukan hanya soal alat komunikasi, tetapi juga simbol identitas dan status sosial.
Sebagai intermezo, pernahkah kalian mendengar tentang fenomena "unboxing" di YouTube? Banyak Gen Z yang membuat video unboxing iPhone terbaru untuk membagikan pengalaman mereka dengan audiens. Ini menunjukkan betapa berartinya iPhone dalam kehidupan mereka, tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari budaya dan identitas mereka.
Namun, penting juga untuk diingat bahwa tidak semua Gen Z memandang iPhone dengan cara yang sama. Beberapa mungkin melihatnya sebagai simbol materialisme atau merasa tekanan sosial untuk memiliki barang-barang tertentu hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain.
Finally, Penting untuk diingat bahwa persepsi ini dapat bervariasi tergantung pada budaya, lokasi geografis, dan latar belakang individu. Ada juga kritik yang menyatakan bahwa tekanan sosial untuk memiliki produk tertentu demi status bisa menjadi masalah tersendiri. Bagaimana pun, iPhone telah berhasil menciptakan image yang kuat di mata banyak orang sebagai simbol status dan kemewahan.

Posting Komentar